Bintang
? Apa kalian pernah mendengar manusia di bumi bersahabat dengan gerimis saat
mereka sedih ? Membuat kalimat berantai seolah menghargai setitik demi setitik
yang diturunkan sahabatmu ?, tapi kenapa kalian tak segan mengatakan padaku
kalau nyanyian hujan hanya akan membawa ku semakin jatuh, mengalir tenggelam
sampai lupa tentang kabar kemarau panjang.
Alya
Eriana, salam manis dariku. Aku lahir di Kota Pekalongan 15 tahun yang lalu. Kota
sederhana penuh cerita yang melahirkan jutaan imajinasi, tempat terkenang
berbagi teman dan berbagi makanan kecil. Tempat orang-orang dengan berbagai
pemikiran berkumpul, menguleti masalah-masalah negeri kecil ini. Sayang, 15 tahun
disini tak banyak aku menghirup udara malam di luar sangkar, aku tak kenal
lampu taman dan pedagang kaki lima yang berjajar meramaikan jalan raya Veteran.
Aku tak kenal drummer dan pianis yang berdendang setiap malam. Tapi tak apa,
kata Ayah diluar sangat dingin. Nanti aku bisa sakit kalau sering keluar malam.
Hanya itu alasan yang aku tahu. Membosankan...
Malam
ini aku tidur di kamar Razid, sahabat karib sekaligus teman kesunyian buatku. Aku
datang diam-diam, memang sengaja aku tak ingin membangunkannya. Saat aku
membuka tirai kamar, Razid tengah terbaring di atas kasur. Selimut biru langit
membalutnya dengan hangat. Aku berjalan jinjit mendekatinya, ku rapatkan
selimut yang ia kenakan sampai ke telinga. Razid, begitu saja namanya. Tiga
hari yang lalu Razid baru saja berulang tahun yang ke 16 tahun. Aku ingat malam
itu ia sangat senang mendapat kursi roda baru, walaupun ia tak akan dapat
melihat warna singgasana nya yang mengkilat. Kursi roda, itulah dunia Razid. Ia
terlahir normal seperti bayi-bayi lain, tumbuh menjadi remaja seperti remaja
lain. Tapi takdirnya tak seperti takdir darah yang lain, Razid harus kehilangan
penglihatannya semenjak kecelakaan itu. Kecelakaan yang merenggut nyawa
malaikat pelindungnya, Bu Sarni. Lima bulan lalu ia dan Razid dalam perjalanan
kerumahku, namun ditengah jalan ban bus yang mereka tumpangi meletus, bus oleng
dan akhirnya terguling jatuh ke jurang. Ia tewas dalam tragedi itu, sementara
Razid harus ikhlas dengan kaki nya yang tak lagi bisa digerakkan. Kini lelaki
yang dahulu gagah melindungi ku sering bersedih hati, ia sering menengadah ke
langit padahal tak terkira sakitnya mengenang titik awan yang dahulu pernah
menjadi penghibur, sekarang hanya menjadi bayang semu.
Sepertinya
ia sudah terlelap. Setelah menarik kasur dari bawah dipan tempat dia tidur. Aku
mulai menata sprei dan selimutnya. Tenang Razid, kalau kau terbangun tengah
malam dan butuh minum. Aku ada disebelahmu.
Bu
Sarni itu saudara angkatku dari kampung, ia dan Razid mengadu nasib di kota
tepatnya dirumahku sudah sejak tahun 90-an. Saat pertama kali datang Razid baru
berumur tiga tahun, masih unyu dan nakal. Bunda bilang, dulu aku dan Razid akan
menangis kalau dipisahkan. Pokoknya apapun selalu bareng. Begitupun sekarang, aku
dan Razid masih sering bermain bersama. Walaupun ia tak bisa lagi menemani ku
berangkat sekolah, tapi tak apa, sekarang tugas ku adalah menemaninya setelah
pulang sekolah dan menjadi guru private nya.
Musik
alam memang merdu, terbukti dari cara mereka menina bobok kan ku. Aku terlelap
di bawah langit yang sama. Mimpi indah Sobat...
***
“Alya
?”
Aku dengar seseorang memanggil.
Razid ? sudah bangun rupanya. Setengah sadar aku bangun dari tidur.
“Iya
? Aku bangun” Aku berdiri menjatuhkan selimut ku. Aku tahu apa yang harus aku
lakukan setiap pagi, mengambil air putih untuknya, pun untuk ku juga.
“Al,
hari ini kamu libur ?” tanya Razid sebelum meminum segelas air putih di
genggamannya.
“Iya
? Razid mau jalan-jalan lagi ?”
“Nanti,
ceritakan soal sekolah baru mu ya ?” Pinta Razid padaku.
“Siap
!, aku keluar dulu ya... nanti aku bawa sarapannya kesini. Kamu mandi dulu,
hari-hati jatuh”
Setelah
aku siapkan semua yang dia butuhkan untuk mandi, aku segera keluar dari
kamarnya. Razid sudah hafal bagaimana caranya mandi, dimana letak kursi untuk
duduknya, letak sabunnya. Yaiyalah, sudah berbulan-bulan dia begini. Razid
bukan orang yang segera menyalahkan siapapun saat tertimpa sial. Ia orang yang
tegar, selama ini Razid belajar banyak hal dan jarang mengeluh soal penglihatan
dan kelumpuhannya. Razid juga sudah hafal membuka jendela dan menata tempat
tidur sendiri. Dia bilang, dia mau jadi dokter. Baiklah razid, semoga kelak
Tuhan menjawab do’a mu.
Sign up here with your email
EmoticonEmoticon