<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- hanimaulisya_main_Blog1_1x1_as --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-8462904462266240" data-ad-slot="1837331217" data-ad-format="auto"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Menyimpan Perasaan, Menjaga Hati ?




Tidak mudah melawan perasaan sendiri, boleh menang dengan mudah melawan penjajah. Mati syahid jelas syahid berjuang untuk negara dan agama. Tapi siapa yang mengira berjuang melawan rasa jauh lebih sulit dari itu semua ?
Tidak ada batas yang jelas, hanya taburan garam sepertinya. Taburan garam untuk menjaga tenda dari hewan melata. Entah ujian seperti ini dialami juga oleh remaja-remaja di Pondok Pesantren, pemuda yang mengabdi pada Kyai, dan pemuda yang berdzikir tiap malam diatas sajadah islam, entah pula orang-orang seperti ku yang hidup bebas.
Berapa kali harus jatuh karena masalah seperti ini, tiada yang tahu, tiada yang berani menanggung. Orang bilang ini namanya cinta, harus berani sakit hati. Tapi apa iya cinta pada manusia dibiarkan begitu saja merebut Tahta Sang Maha Cinta ? Padahal istana ini hanya untuk tempat berada Allah.SWT saja, yang lain adalah buah-buah surga yang tumbuh dari pohon cinta, katanya.
Kenapa Allah SWT menghadirkan perasaan seperti ini, tapi malah diperintah untuk menahan. Memang sudah jelas jalan yang diberikan, tapi bagaimana dengan orang-orang yang belum waktunya ? tapi hati nya dibuat meronta-meronta. Murnikah ini perbuatan setan belaka ? lalu apa kata nurani.
Kadang melihat orang yang kita cintai adalah seperti anugrah dari Allah SWT, berdekatan, berbicara, bercanda dengan orang yang dicintai seperti sebuah rezeki. Tapi kemudian, tertulis bahwa itu ujian untuk kekuatan iman.
Pada sebuah perjalanan, kita mampu memilih untuk mengelak dan menyimpan rasa dalam-dalam, tapi dipersimpangan lain tak ada jaminan apa yang telah tidur tenang tak akan terbangun lagi. Jika menunggu seseorang yang kadang ketika memikirkannya seolah dialah yang menjadi takdir kita nanti, padahal ‘siapa yang tahu ?’. kata Pak Mario, jodoh kita yang memilih dan Allah SWT yang merestui, maksudnya ? memangnya boleh PDKT dengan dia, lalu biar Allah SWT yang merestui. Bukannya Allah SWT melarang, dekat-dekat saja dilarang. Sulit bukan ? ya... J
Bolehkah hanya menuliskan surat untuk Allah SWT berbentuk do’a do’a, suratnya seperti puisi yang ditulis dengan tulisan tangan. Ditulis dengan hiasan bekas titik air mata, dan sedikit guratan pena yang dipaksakan.
Bolehkah menyandarkan apa yang kita rasakan pada Allah SWT ? siapa yang ingin cintanya dibagi. Pasti Allah SWT cemburu, apa iya ? aku berkhianat ? padahal aku tak bermaksud begitu. Maksud hati melibatkan Allah SWT dalam pencarian, tapi aku tidak yakin kalau Allah SWT belum menentukan yang terbaik. Di Firmankan, bahwa Allah SWT akan mengurusi urusan Hamba apabila Hamba tersebut mengurusi urusannya sebagai Hamba kepada Tuhannya.
Jadi bukan melibatkan Allah SWT dalam pencarian separuh nyawa yang dipisah di alam sebelum kelahiran, apa itu sebuah hadiah ? Bolehkah aku memilih hadiahku padahal Aku belum menunaikan kewajiban ku.
Tak habis pembuktian kebenaran Firman Allah SWT dan hadist Utusan Allah SWT. Tetapi kenapa hati masih suka membangkang  ? padahal cukup jelas, semua ada di tangan Allah SWT. Tapi kenapa aku masih suka takut kalau-kalau Allah SWT tak menjaga nya.
Ampun, padahal Allah SWT tak pernah lengah sekejappun. Dirinya adalah makhluk Allah SWT juga, dia akan terjaga jika Allah SWT berkehendak untuk menjaganya. Lantas kenapa lagi aku masih berpikir, cukup sulit memalingkan hati apabila telah menghadap pada satu yang meyakinkan, padahal jelas-jelas hanya Allah SWT yang menjamin, yang lain nihil.
Sekarang, kalau hendak menghilangkan perasaan kotor ini bagaimana ? apa benar ini karunia ?
Kalau karunia kenapa kadang terasa mendekatkan, kadang terasa menjauhkan dan membuat frustasi. Padahal cinta yang benar akan membawa kita semakin dekat dengan Yang Maha Kuasa.
Adakah setan berperan menggerakan karunia itu ? sampai-sampai mengundang marah ? harusnya hati tidak perlu sekalut ini. Sudah siang pula, waktunya bekerja. Baginda juga pasti tak suka ada umatnya meratap hanya karena mempertanyakan perasaannya pada manusia lain, sebaiknya cepat bangun. Usap air mata, ambil segenggam udara. Bismillah...
Tidak boleh ada keraguan lagi terhadap jaminan dari Allah SWT, jangan lagi mempertanyakan. Sisihkan pengganggu itu, perasaan seperti lumut kerak. SoaL ujianmu bukan memikirkan bagaimana cara menjaga hati orang yang hatinya ditarik sana-sini, tapi bagaimana cara menjadi manusia sesuatu kodrat dan menghamba dengan baik.
Salam Tauhid
J
Previous
Next Post »

Adsense