Tidak mudah melawan perasaan sendiri, boleh menang dengan
mudah melawan penjajah. Mati syahid jelas syahid berjuang untuk negara dan
agama. Tapi siapa yang mengira berjuang melawan rasa jauh lebih sulit dari itu
semua ?
Tidak ada batas yang jelas, hanya taburan garam sepertinya. Taburan
garam untuk menjaga tenda dari hewan melata. Entah ujian seperti ini dialami
juga oleh remaja-remaja di Pondok Pesantren, pemuda yang mengabdi pada Kyai,
dan pemuda yang berdzikir tiap malam diatas sajadah islam, entah pula
orang-orang seperti ku yang hidup bebas.
Berapa kali harus jatuh karena masalah seperti ini, tiada
yang tahu, tiada yang berani menanggung. Orang bilang ini namanya cinta, harus
berani sakit hati. Tapi apa iya cinta pada manusia dibiarkan begitu saja
merebut Tahta Sang Maha Cinta ? Padahal istana ini hanya untuk tempat berada
Allah.SWT saja, yang lain adalah buah-buah surga yang tumbuh dari pohon cinta,
katanya.
Kenapa Allah SWT menghadirkan perasaan seperti ini, tapi
malah diperintah untuk menahan. Memang sudah jelas jalan yang diberikan, tapi
bagaimana dengan orang-orang yang belum waktunya ? tapi hati nya dibuat
meronta-meronta. Murnikah ini perbuatan setan belaka ? lalu apa kata nurani.
Kadang melihat orang yang kita cintai adalah seperti anugrah
dari Allah SWT, berdekatan, berbicara, bercanda dengan orang yang dicintai
seperti sebuah rezeki. Tapi kemudian, tertulis bahwa itu ujian untuk kekuatan
iman.
Pada sebuah perjalanan, kita mampu memilih untuk mengelak
dan menyimpan rasa dalam-dalam, tapi dipersimpangan lain tak ada jaminan apa
yang telah tidur tenang tak akan terbangun lagi. Jika menunggu seseorang yang
kadang ketika memikirkannya seolah dialah yang menjadi takdir kita nanti,
padahal ‘siapa yang tahu ?’. kata Pak Mario, jodoh kita yang memilih dan Allah
SWT yang merestui, maksudnya ? memangnya boleh PDKT dengan dia, lalu biar Allah
SWT yang merestui. Bukannya Allah SWT melarang, dekat-dekat saja dilarang. Sulit
bukan ? ya... J
Bolehkah hanya menuliskan surat untuk Allah SWT berbentuk do’a
do’a, suratnya seperti puisi yang ditulis dengan tulisan tangan. Ditulis dengan
hiasan bekas titik air mata, dan sedikit guratan pena yang dipaksakan.
Bolehkah menyandarkan apa yang kita rasakan pada Allah SWT ?
siapa yang ingin cintanya dibagi. Pasti Allah SWT cemburu, apa iya ? aku
berkhianat ? padahal aku tak bermaksud begitu. Maksud hati melibatkan Allah SWT
dalam pencarian, tapi aku tidak yakin kalau Allah SWT belum menentukan yang
terbaik. Di Firmankan, bahwa Allah SWT akan mengurusi urusan Hamba apabila
Hamba tersebut mengurusi urusannya sebagai Hamba kepada Tuhannya.
Jadi bukan melibatkan Allah SWT dalam pencarian separuh
nyawa yang dipisah di alam sebelum kelahiran, apa itu sebuah hadiah ? Bolehkah
aku memilih hadiahku padahal Aku belum menunaikan kewajiban ku.
Tak habis pembuktian kebenaran Firman Allah SWT dan hadist
Utusan Allah SWT. Tetapi kenapa hati masih suka membangkang ? padahal cukup jelas, semua ada di tangan
Allah SWT. Tapi kenapa aku masih suka takut kalau-kalau Allah SWT tak menjaga nya.
Ampun, padahal Allah SWT tak pernah lengah sekejappun. Dirinya
adalah makhluk Allah SWT juga, dia akan terjaga jika Allah SWT berkehendak
untuk menjaganya. Lantas kenapa lagi aku masih berpikir, cukup sulit
memalingkan hati apabila telah menghadap pada satu yang meyakinkan, padahal
jelas-jelas hanya Allah SWT yang menjamin, yang lain nihil.
Sekarang, kalau hendak menghilangkan perasaan kotor ini
bagaimana ? apa benar ini karunia ?
Kalau karunia kenapa kadang terasa mendekatkan, kadang
terasa menjauhkan dan membuat frustasi. Padahal cinta yang benar akan membawa
kita semakin dekat dengan Yang Maha Kuasa.
Adakah setan berperan menggerakan karunia itu ?
sampai-sampai mengundang marah ? harusnya hati tidak perlu sekalut ini. Sudah siang
pula, waktunya bekerja. Baginda juga pasti tak suka ada umatnya meratap hanya
karena mempertanyakan perasaannya pada manusia lain, sebaiknya cepat bangun. Usap
air mata, ambil segenggam udara. Bismillah...
Tidak boleh ada keraguan lagi terhadap jaminan dari Allah
SWT, jangan lagi mempertanyakan. Sisihkan pengganggu itu, perasaan seperti
lumut kerak. SoaL ujianmu bukan memikirkan bagaimana cara menjaga hati orang
yang hatinya ditarik sana-sini, tapi bagaimana cara menjadi manusia sesuatu
kodrat dan menghamba dengan baik.
Salam Tauhid
J
Sign up here with your email
EmoticonEmoticon