Selamat malam, terimakasih sudah mampir :)
Malam ini malam yang nggak jelas gara-gara mimpi semalam *curhat eak :v . Tapi tinggalin mimpinya, aku masih ingin bahas tentang ... . Ehem...
<Opening dulu>
Belakangan sering mikir kenapa seorang aku beda dari yang lain, saat yang lain dapat pacar baru, aku tetap jomblo, saat yang lain putus dari pacarnya, aku tetap jomblo, saat yang lain nemuin yang baru, aku masih jomblo, saat yang lain putus lagi dengan pacar barunya itu, aku masih jomblo, bahkan saat aku berhasil jadi mak comblang buat newest couple, tetep aja status ku jomblo. Entah nasib entah kutukan...
Setelah merenung beberapa hari -_- , mulai sadar, Kenapa persoalan itu terjadi. Jawabannya adalah karena sikap dan sifatku juga beda dari yang lain.
Level, dari dulu ngotot banget kalau dalam menyeleksi manusia aku nggak butuh level tapi kenyatannya. Sesuatu yang aku anggap sederhana, satu aja 'Jujur', itu satu kata nggak bernilai rupiah, nggak butuh keringat, dan nggak akan bikin miskin seumur-umur, pun tidak seperti itu kenyataannya. Kejujuran jadi barang langka, dan bersiaplah menunggu untuk waktu yang cukup menyabarkan dan memperhatikan dengan sangat jeli untuk menemukan orang-orang-orang seperti itu.
Lupakan level, persoalan kedua. Jarang banget mau ngeladenin sms-an chattingan atau telfonan. Bahkan ketika orang yang tersayang sms *walaupun bisa diitung pake jari -_- , jawabnya ya to the point dan nggak ada buntut. Perlu 1 ya kasih 1. Mana mungkin nambahin 0,1 ?. Wajar nggak sih, kontak mata menurut ku lebih meanfull dan penuh cerita dari pada sekedar tanya kabar dan lain-lain. Tapi mungkin bakal lain cerita kalau yang sms sama yang disms sehati, tuh pasti nyambung dan semangat balesnya. *jiaah :v
Pass yang kedua, masalah ketiga. Sifat yang nggak sosialita, nggak bisa cari perhatian sana-sini, cuma bisa beralay dengan kata-kata, dan Penakut !, nah itu.
Padahal dari dulu kecil mainnya juga mainan laki, lumayan gede nggak pernah tuh masuk asrama perempuan, masa SMK/SMA pun masuk jurusan yang hampir separuh ditempatin laki-laki, udah kerja juga nggak jauh-jauh dari lingkungan yang riuh dengan laki-laki, tapi kenapa susah banget yah.
Jangan-jangan masalah ke empat, sesuatu yang paling kelihatan nggak sempurna, fisik ? :'/ bisa jadi ini nih. Tapi kata orang-orang ini relative, kata orang-orang yang kurang kali ya ? -_- Astaghfirullah...
>>>
Kemarin waktu main kerumah temen, sebut saja Bunga. :D dia cerita soal pacar barunya, gimana romantisnya upacara penembakan :v , hari-hari mereka yang romantis manis nari-nari dibawah gerimis, dan semua yang mengiris-iris. Ikut senenglah kalau temen seneng. terus si bunga itu nyaranin buat lebih buka hati karena pacaran itu aseeekk. Disitu pikiran mulai kacau...
Singkat sejarah, saran untuk memperjuangkan pun tersirat. Diperjuangkan ?...
Entah benar atau tidak ketika aku harus berubah demi persoalan 'itu'.
Disatu sisi, cita-cita dan keinginan ku masih terlalu banyak disisi lain orang-orang disekitarku, seusiaku, sebayaku, mereka menggambarkan dengan bangga orang yang berada disamping hati mereka pada sang ibu dan bapak mereka, sedang ayah dan ibuku ? Alhamdulillah, mereka masih menginginkan aku untuk mempersiapkan masa depan yang mungkin akan lebih sulit dari aoa yang mereka perjuangkan sekarang.
Kalau teman2ku laki-laki aku mungkin tidak akan memikirkan ini, mungkin. Tapi ketika teman-temanku perempuan, aku tahu cepat atau lambat mereka akan menstempel orang-orang itu sebagai kekasih mereka. Setiap perkumpulan, jalan-jalan bareng, bahkan buka bersamapun akan ada dengung mengerikan tentang hubungan pasangan-pasangan muda, itu yang mengangguku...
Ngomongin soal memperjuangkan lagi. Mudah sekali mungkin bagi mereka untuk memperjuangkan apa yang inign mereka miliki. Sementara denganku ? aku selalu menimbang smeuanya sematang mungkin seadil mungkin. Kalau itu akan mengangguku, hal yang menjadi keinginan bisa jadi pantangan. Siapa yang tidak ingin pacaran ? ah jangan bercanda, aku pun ingin. Tapi aku memikirkan tutorial yang lebih bagus dari pada sekedar jeng-jeng keluar, smsan, sayang-sayangan tidak karuan, No !...
Curiga, apa pikiranku sudah terlalu tua sampai aku melihat itu semua kurang suka. Menurutku tidak begitu juga. Aku hanya ingin memilih teman, teman hidupku... :D yah walaupun pada akhirnya akulah yang akan menjadi teman...
jadi aku banyak pertimbangan ketika bermaksud menghubunginya,
1.siapa aku ?
2.buat apa ? ganggu dia ?
3.sok deket lu !
Itu yang membuat memperjuangkan jadi sulit, dan serasa harus dianggap tidak penting.
Dalam pikiran, aku ingin memantaskan diri dulu untuk menjadi sesuatu yang pantas diterima.
Walaupun sayang, mungkin kisah halaman ini sudah terlambat. Kelanjutannya adalah keputusan Tuhan. Jika Dia menghendaki, mungkin aku akan bertemu dengan orang itu lagi, jika tidak ya tidak apa-apa.
Nah kan, tidak ada yang pantas disebut perjuangan, aku berpangku pada keadaan. Menjalani semuanya dengan dukungan yang kadang menjatuhkan kadang membangunkan.
Duh perjuangan apa itu namanya, aku tidak tahu caranya. Sudahlah...
-_- Bawa perasaan akhirnya...
Sign up here with your email

EmoticonEmoticon