Harusnya malam ini aku baca ayat-ayatNya, aku terjemahkan surat cinta dari Nya kalimat demi kalimat. Demikianlah orang-orang mengejar lailatul qadr, Malam istimewa yang dieluh-eluhkan umat.
Aku berharap tidak ada perbedaan aku dan orang-orang mulia soal kegiatan di sepuluh hari terakhir bulan mulia ini. Tapi tidak kenyataannya, aku malah menulis.
Sejak hari itu, semakin lama aku semakin tidak tahu siapa diriku dan kemana takdir akan membawaku. Aku kehilangan banyak hal dengan cara yang cukup mengejutkan. Aku ditinggalkan ketenangan dan dikenalkan kehidupan yang beberapa bulan lalu masih jadi misteri.
Aku tidak bisa lagi melakukan apa yang dahulu pernah jadi kebiasaanku. Dan, belakangan aku membayangkan aku benar-benar tidak bisa lagi.
Kemana hari mengarah ? Aku melihat daun berayun-ayun ke arah timur, tapi angin meniup layar bahteraku kearah barat. Entah sekarang aku sudah sejauh mana, aku tidak tahu.
Dibalik rencana yang digagalkan, pasti ada sesuatu yang salah disana. Mungkin itu yang akan aku ingat.
Cukup memberiku isyarat bahwa terkadang dunia tidak seperti apa yang aku kira. Dan tegas melukiskan garis antara masa lalu dan masa yang baru.
Banyak hal berubah...
Teman-temanku, pekerjaanku, hari-hariku, rencanaku, kehidupanku, semuanya... J
Bukan tempat ramai yang penuh sorak-sorakan, sekarang ini aku ada ditempat yang kadang aku merasa sendirian, kecuali Tuhan. Hanya Dia yang tidak pernah meninggalkanku, aku sebut itu keberuntungan yang besar.
Aku tidak akan kuat menatap mata-mata itu lagi, bila aku melakukannya maka sejarah akan terbaca. Seluruh hari-hari ku nanti akan terikat dengan waktu lalu yang telah pergi meninggalkan buku cerita.
Cerita yang kadang aku tertawa, sering menangis, dan kadang pula tertegun dibuatnya. Ya Allah... terimakasih atas perjalanan yang indah ini.
Biarlah yang aku lihat semuanya berubah, asalkan sebenarnya aku melakukan apa yang menjadi tugasku di dunia ini.
Biarpun tak dapat aku menuntut kepastian sekarang, semoga Allah SWT berkenan menjaga aku...
Aku merasa ditengah samudra sekarang, dimana sejauh mata memandang hanya kelihatan tantangan, kerja keras, dan pantang menyerah. Aku tanya pada Angsa yang terbang dilangit sore. Katanya cepat atau lambat semuanya memang akan berubah.
Orang-orang lama yang dahulu pernah aku sayangi, mungkin saja suatu hari bertemu dijalan.
“Hey, apa kabar ?”, aku menyapanya.
Tapi dia akan menjawab “Maaf, siapa ya ?”.
Sebesar apapun seseorang memberikan kesan pada kita, bila akhirnya dia telah dipertemukan dengan kehidupan baru, hujan akan menghapus cerita kalian. Yang tersisa hanya lembaran yang mungkin suatu hari akan saling dipertanyakan dalam kehidupan masing-masing.
Sebuah peruabahan, seluruh manusia merasakannya...
Cita-cita yang pernah aku cerita-ceritakan, mungkin saja itu tidak nyata.
Entah apa yang ingin Tuhan sampaikan padaku, sampai saat ini aku memetiknya masih dengan perhitungan.
Aku masih saja merasa kehilangan banyak hal, tapi mau tidak mau semuanya pasti terjadi.
Pada akhirnya aku harus menjawab essay tentang mata kuliah Kehidupan di dunia ini, dan semuanya bermuara pada satu titik.
Sesudah tulisan ini di posting, semoga perasaan ini akan merasa lebih baik.
Terimakasih sudah mampir, mohon maaf lahir batin... J
Sign up here with your email

EmoticonEmoticon