<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- hanimaulisya_main_Blog1_1x1_as --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-8462904462266240" data-ad-slot="1837331217" data-ad-format="auto"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

The Same Groove

"Hallo ?"
"Hallo ? ini siapa ?"
Aku hanya diam, tak ada satu kata pun keluar dari mulutku.
kira-kira aku ngaku tidak ya ?

"Halo ? ini Dinda ya ?"
Dinda ? siapa Dinda ?

Tanpa menyampaikan kalimat terakhir aku menutup teleponnya. Dinda, nama itu asing buatku tapi kenapa bisa aku tidak tahu orang yang dia sebut namanya dipercakapan barusan. Mau positif thinking tapi selalu negativ thinking. Seharian aku memikirkan nama itu, sampai makan malamku pun jadi rasa Dinda.

Orang yang aku telepon tadi siang itu adalah Lintar, dia seusiaku lahir tahun 1997. Lintar bukan orang lain, tapi aku tidak tahu siapa dia saat ini untukku, kalau aku bilang pacar, kita sudah dua tahun Loose kontak, sahabat ? aku dan dia bahkan tidak pernah bercengkrama atau sekedar bertegur sapa. Apa dia orang lain ? tidak juga, dua tahun lalu aku dan dia juga sempat jadi teman dekat.

Saat hari menjelang malam, handphone ku berdering. SMS
'Kamu Dinda ya ?'
'Ya , aku Dinda' aku bohong. Ya hari itu aku berbohong, aku mengaku sebagai Dinda. Aku ingin tahu reaksinya kemudian.
'Bohong, kalau Dinda ganti nomor aku pasti tau'

Dinda ganti nomor dia pasti tahu, aku ganti nomor dia tidak tahu, manis.
 Pesan malam itu berakhir bukan dengan selamat malam. Aku memutuskan untuk melepas kartu SIM ku dan menggantinya dengan yang baru.

Keesokan harinya, salah seorang teman bercerita padaku tentang siapa Dinda.
"Dinda itu teman satu sekolahnya" Ucap Rika memulai penuturannya. Aku mulai perhatikan matanya, mulai merecord apa yang akan dia katakan.
"Dia cantik",
Rika memberi jeda pada setiap katanya. Mungkin dia takut aku shock melihatku hanya diam sambil menghisap permen karet.
"lanjutkan"
"Dugaanku mereka PDKT" Kalimat itu, balon permen yang mengembang besar mengempis perlahan, udaranya kembali masuk ke mulutku. Walaupun ini bukan sesuatu yang aneh bagiku, tapi kata-kata Rika seperti mempertegas kalau aku dan Lintar tak pernah ada hubungan apa-apa.
Setelah itu Rika tidak berani melanjutkan pernyataannya, dia malah memintaku melupakan apa yang dia katakan. Aku bilang tidak bisa janji, tapi akan aku coba semuanya tetap baik-baik saja.

Siapa yang akan dia tanyakan kalau aku pakai nomor ini ?

"Hallo ?"
"Hallo ? ini ?"
"Arin, aku Arin"
"Arin ! kenapa sms ku tidak dibalas"
Aku tidak menjawabnya
Dia tidak bilang Dinda lagi, tapi hampir mengatakannya.

'Maaf, Arin sudah pulang'
'Lo, ini siapa ?'
'Ini Dede, temennya'
'Ini nomornya siapa ?'
'nomornya Arin, tapi Arin udah pulang. HP nya ditinggal'
'kenapa ditinggal ?'
'nggak tau, dia kelihatan badmood'

Kalian tahu ? Bahkan Dede itu adalah Arin. Aku hanya ingin tahu apa yang akan dia katakan dan tanyakan jika bisa menghubungi temanku.

Hari ini mungkin percakapan terakhir, setelah ini aku tidak akan mudah percaya lagi. Aku janji pada diriku sendiri, biar ini jadi pelajaran untukku.
malam itu aku mulai mengirim pesan singkat, maksud hati ingin memastikan bahwa memang tidak ada hubungan yang harus diputuskan, Entah bagaimana alurnya, percakapan tulisan diantara kami sampai pada pertanyaannya yang menurutku jadi puncak pembicaraan malam itu.
'jadi selama ini kamu anggap aku siapa ?'

Akan aku pastikan malam ini semuanya selesai.
'sahabat, aku hanya menganggapmu sahabat'

beberapa menit kemudian, aku menerima pesan lagi. Isinya lumayan panjang lebar, intinya dia kecewa karena menganggap aku lebih dari itu. Tapi kemudian dia bilang dia hanya bercanda. Apa yang ada diotaknya ?
Aku tidak peduli mana yang jujur, rasa kecewanya atau candaannya. Yang jelas semuanya aku anggap sudah selesai tanpa harus diselesaikan.

(Hari ini)

'pagi...'
'ini siapa ?'
'aku Aldi rin, apa kabar ?'

dan selanjutnya, biasa percakapan antara dua orang teman yang lama tidak bertemu. Dan sampai pada kalimat paling mengejutkan. Aku tahu maksudnya, lebih dari sekedar teman. Aldi, dia juga bukan orang baru. Beberapa bulan belakangan teman masa kecilku menghubungi lewat telepon dan SMS, apapun itu wabahnya aku senang pertemanan kami berlanjut, tapi aku tidak suka bagian nostalgia.

Aku beri banyak penjelasan pada Aldi, tapi dia keras kepala. Oke, lebih baik menyakitinya sekarang dari pada nanti.
'Aldi ? masih marah ? aku minta maaf. Coba jadi teman yang baik'
Aku kirim pesan itu dengan harapan dia akan kembali jadi Aldi yang dulu, temanku. Bukan Aldi yang membual kata-kata.
'Mbak Arin ya ? Ini aku adik sepupu nya'
'bisa tolong kasih ke Aldi dek ?'

Beberapa menit aku berkirim pesan dengannya, tapi kata-katanya tidak menunjukan kalau dia baik-baik saja.
'Mbak ! Mbak Arin keterlaluan'
Setelah dua puluh menit, aku menutup salam tiba-tiba muncul pesan itu.
'keterlaluan kenapa ?'
'Kak Aldi jadi sedih gitu kenapa ? Mbak keterlaluan. kak Aldi udah cob buat Mbak yakin tapi Mbak Arin tetep keras kepala'
'Maaf dek, yang keras kepala itu Kakakmu. Kenapa kamu ngomong begitu ?'
'Mbak, lebih dari seminggu ini Kak Aldi sering banget cerita tentang mbak, dia seneng banget. sampai-sampai main PS aja dinamain pake namanya Mbak, tapi Mbak jahat !'
'Apa dia masih disitu ?'
'Udah pulang mbak, dia marah sama Mbak !!!, belakangan Kak Aldi sering menyendiri di kamar. Nggak keluar, ditanyain juga diem aja. Apa mbak nggak kasihan ? coba mbak di posisiku. aku mau hibur tapi bingung harus gimana'
'Maaf dek, mbak juga nggak bisa apa-apa. Biar dia tenang dulu, nanti mbak yang ngomong'

Percakapan ini pun berlanjut sampai larut malam, Aldi belum juga bicara. Menjelang tengah malam dia mengirim pesan, aku tidak yakin akan menuliskan inti pesannya tapi ini hal terbodoh yang pernah dia katakan.
'... Demi Tuhan aku tidak akan hadir dalam kehidupan mu lagi...'

Sepenggal itu yang selalu terngiang dipikiranku.
Setelah membacanya, aku tidak bisa tidur. Ku bayangkan apa yang terjadi hari ini.
Aku jadi ingat dua tahun lalu, aku mengaku jadi Dede. jangan-jangan Adik sepupu Aldi adalah Aldi. Kenapa kejadiannya sama. Setelah dia mengucapkan kata-kata itu sakit ku tidak terukur. Aku tidak berkhayal dia akan bilang begitu. Apa ini juga yang dulu Lintar rasakan. Aneh...

Aku merasakan perbuatanku dulu menjadi karma hari ini. semuanya aku rasakan sendiri. Dan karena kejadian itu aku hanya ingin katakan...
Jangan melukai orang yang sebenarnya kamu sayang, jika tidak bisa membuatnya bahagia coba jauhkan mata pisau dari sekitarnya. Biarpun kamu tidak memberikannya bunga, tapi dia tidak akan terluka dan kamu menjaganya...
Atau suatu hari jika kamu tak sengaja atau bahkan jika sengaja, mata pisau itu akan berbalik dan memburumu... Karma masih berlaku, mungkin ini hanya taburan debu. Tapi batu masih berlaku, seukuran dengan apa yang kamu lakukan...
Previous
Next Post »

Adsense