Badan wangi, rambut rapi, perut kenyang. selesai...
Hari ini tidak banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, jadi aku langsung capcus jalan-jalan.
"Alya, katanya mau cerita sekolahmu !"
"Oh iya, mulai darimana nih ?"
"Baru seminggu masuk, sudah sok banyak cerita"
"Haha... yaudah, gini Raz. Waktu aku pertama kali ke sekolah, aku kaget. Keliatan dari luarnya itu sekolah sempit, tapi ternyata dalemnya gedeee banget, lapangannya lengkap, futsal ada, voli ada, badminton ada, buat lempar-lempar aja ada, cuman kurang lapangan sepak bola aja. Terus pialanya juga banyak Raz, tahun kemarin sekolah ku ini baru dapat piala festival musik, emang sih enggak begitu terkenal, tapi lingkungan yang nggak panas dan kantinnya itu loh, makanannya lengkap. Belum guru-gurunya, banyak yang masih mud.."
"Al !"
"Heh ?"
"Kamu itu ceritanya nggak pernah ganti, yang lain kek... temen-temen kamu apa hari-hari kamu disekolah gitu"
"Apa ? Jangan deh..."
'Dreet dreet...'
"Al ini, ponselmu !"
"Selamat Pag.."
"Kenapa ?"
"Ini, sms ini lagi"
"sms apa ?"
"Ini nomor misterius raz, tiap pagi sms dan kalimatnya selalu sama. Kalo aku tanya dari siapa nggak pernah dibales"
"HP kamu rusak kali ? makanya nggak keluar nick name nya"
"Enggak, aku udah cek satu-satu"
"Udah berapa lama emang ?"
"Sekitar tiga hari ini, tiap malem juga 'selamat tidur'. Nyebelin kan ?"
"Bisa jadi temen sekolahmu tuh"
"Hah ? baru juga seminggu"
"Coba tanya temen-temen kamu"
"Bukan tanya lagi Raz, aku udah geledah HP temen-temen deket tetep nggak ada petunjuk. Tapi yaudahlah.. paling seminggu aja orang ini sms beginian"
"Yaudah, kalau kamu ngerasa keganggu kamu kan bisa blokir nomornya"
"Males ah, biar aja udah"
Aku pernah bilang kalau pesan singkat itu hanya tahan sampai satu minggu, tapi hari ini adalah hari ke 352 sejak pertama sms itu ada dan selama itu juga tidak ada informasi pasti tentang siapa pengirim pesan itu. Ganti nomor sudah aku lakukan berulang-ulang, tapi tidak kurang dari tiga hari pesan itu akan muncul lagi. Terakhir aku beli kartu baru sekitar tiga bulan yang lalu. Aku memutuskan untuk tidak ganti nomor lagi dan tidak memblokir nomornya.
Walaupun kesal, aku akui pengirimnya hebat. Siapapun pengirimnya, aku ucapkan terimakasih. Terimakasih atas pesan singkatmu yang selalu muncul tiap aku bangun dan saat aku hendak pergi tidur, terimakasih sudah mengundang tanya dan menaruh bubuk curiga ditepian akalku. Dimanapun kamu berada, aku masih penasaran siapa kamu ? dan kenapa kamu melakukan ini ?.
Terimakasih sudah mengirim pesan penyemangat saat tidak ada tempat bagiku untuk meminta nasehat. Siapapun dirimu, aku ingin tahu...
"Woy, Melamum bu haji ?"
"apasih Rey"
"Kamu masih penasaran sama pengirim sms itu ?"
"Engh.."
"kamu dari dulu penasaran tapi nggak pernah cari informasi, hunting dong Al !"
"Penting juga enggak, lagian kenapa juga mesti tau"
"kasian tau, sms setahun kamu diemin gitu aja"
"dulu udah aku tanya siapa tapi selalu nggak dijawab, berarti emang dia yang nggak mau aku tahu identitasnya kan ?"
"wah, Alya... seorang secret admirer mana mau ngaku terang-terangan, kalau dia ngaku artinya dia berhenti jadi penggemar rahasia"
"Gitu ya, tapi kira-kira siapa sih ?"
Belum sampai Reynita menjawab pertanyaanku, seseorang disudut ruangan memanggil kami berdua.
"Reyn, Alya !" Karina melambai semangat, wajahnya kelihatan senang. Karina itu teman sekelasku, dia ketua ekskul mading, pinter, cantik, putih, tinggi, rambutnya lebat, wangi dan ... dan banyak yang naksir. Backgroundnya dari keluarga berada, baju nya selalu licin kalau berangkat, biasanya begitu keluar dari mobil pasti selalu lari dari mobil ke kelas, padahal dia berangkat pagi. Mungkin jiwanya ketuker sama jiwa Stevan yang laki ganteng tapi sayang, sering banget mampir di ruang BP gara-gara minta izin ikut pelajaran karena TELAT masuk gerbang.
"Karina, yuk kesana Al !"
"Eh tapi kita kan belum selesai"
"Ah, entar ah. Butut tau nggak ngurusin orang gaje kayak gitu"
Sebenarnya, es buah kami belum habis. Tapi Reynita memaksa untuk pergi ke tempat Karina.
"Kalian temen aku yang baik kan ? bantuin Sebarin pamflet ini dong ? " Pinta Karina manja.
"Kamu manggil kita sekeras itu cuma buat ini ? Duh Karina, es buah ku belum abis" Ucap Reynita.
"Haha.. entar aku ganti deh. Traktir di Cafe Ling Ling, ayolah..."
"Emang pamflet apaan sih ?"
"Pamflet lomba mading, ini acaranya Pak Hadi, guru Bahasa Indonesia kelas dua belas. Yang menang dapat gratis spp setahun ! gila kan ?"
"Hah ?"
"Buat apa ?"
"Sebenernya ada alasannya juga sih, katanya sekolah kita bakalan ikut lomba sastra nasional. Makanya Pak Hadi ngebut jadi talent-talent yang nyungsep dikolong meja. Kalian bantuin dong. Biar mading kita juga makin sukses"
"Kalau yang ikut kelas dua belas ?"
"Baca sendiri aja ah ! males jelasinnya. Nih, 30 lembar. Kalian buru adek kelas. Kalau udah selesai telfon aku. Kita makan di Ling Ling, khusus kamu Alya kamu boleh pesen bekicot sebanyak-banyaknya..."
"Hieeekk, satu juga aku ogah Karina"
"Haha, terserah deh. Dadah kembaaar !" Lalu Karina Pergi, Menghilang, taulah itu anak.
Kembar, yap. Aneh, aku dan Reynita tidak benar-benar kembar. Tapi karena saking seringnya kita bareng-bareng, sering pake style baju yang sama, model rambut sama, bahkan hobi yang sama yaitu hunting foto dan nulis. Bedanya Reynita lebih suka nulis cerita misterius, laga atau detektif. Kalau aku nulisnya romance, super mellow, sama persahabatan. Menurut kalian mana yang lebih menantang ?... Jawabannya pasti Reynita. Emang benar sih, dia adalah sahabat yang nggak pernah bisa diam. Rambutnya yang selalu dikuncir. Poninya yang rapi, dan sisa-sisa rambut yang samping kanan samping kiri. Bess, kalau dia lagi lari, itu jadi pemandangan unik. Ehm.. gimana ya View Reynita itu mirip Baifern atau Pemeran Nam di Film First Love nya Thailand, a Little Think Called Love. tapi nggak secantik Baifern sih. Kalau aku, aku tidak ingin disamakan. Aku ya aku. Alya Eriana.
<!--skip-->
Saat membagi-bagikan pamflet. ada segelintir ide muncul dibenakku.
"Reyn, aku mau ikut kompetisi ini" Pernyataanku langsung mengambil alih perhatian Reynita.
"buat ?" Tatap ia penuh tanya.
"Buat mengungkap rahasia besar"
"Jangan bilang secret admirer lagi ?" Reynita kelihatan kurang suka.
"Ehem" Akupun menganggukan kepala. Ku lihat wajahnya memikirkan sesuatu, bola matanya menatap atas awan.
Sign up here with your email
EmoticonEmoticon