<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- hanimaulisya_main_Blog1_1x1_as --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-8462904462266240" data-ad-slot="1837331217" data-ad-format="auto"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Hani Mauliza


30 Januari 2013 1:44 AM

Entah bagaimana aku mengungkapkan semua ini pada manusia lain. Menatap langit saja sudah kacau semua pikiran ini, bukannnya aku ingin jadi orang yang rugi tapi keadaan memaksaku untuk menjadi orang lain. Karena aku yang sebenarnya jauh dari keberanian untuk menantang kehidupan ini, tapi kenapa aku nyaman dengan suasana hati saat ini. Masa bodoh, menutup diri pada kekecewaan, ketakutan, kebimbangan, dan aku terlalu yakin tak ada yang perlu di khawatirkan di masa yang akan datang. 



Aku selalu memaksa pikiran ini untuk lupa dengan apa yang terjadi, menganiaya raga agar tak peduli dengan rasa lelah...

Sesuatu yang lain terjadi dengan hidupku, mimpi ku yang terlalu melelahkan, angan-anganku yang jauh tak terkendali itu yang saat ini tersimpan di benakku. Menjadi tumpukan harapan dan tuntutan.

Kadang aku tak sadar dengan apa yang aku lakukan, semua terjadi begitu saja. Dan setelah tersadar dari kekosongan pikiran dan kelakuan yang aku lakukan, barulah penyesalan itu datang.

Entah bagaimana lagi aku harus berpikir, mungkin raga boleh tak pernah lelah.

Tapi bagaimana dengan jiwa ku yang tak pernah aku istirahatkan, aku pertahankan dalam keadaan panas, menyimpan dendam pada kekalahan dan kelemahan, juga merasakan keadaan oranglain.



Aku bohong pada diriku sendiri.

Maafkan aku wahai raga yang saat ini aku pinjam.

Ampuni aku wahai Allah yang selalu menemani aku...

Aku melakukan semua hanya demi kepuasan jiwa, bukn keikhlasan. Aku hanya mencoba berubah dengan berbaur bersama para malaikat yang menyembunyikan sayap-sayap mereka, teman-temanku.

Mungkin aku akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik bila aku ada bersama mereka, seburuk apapun perlakuan mereka terhadapku itulah yang menjadi cerminan buat hidupku.

Mungkin aku tak tahu cara berterimakasih kepada mereka karena telah menjadi guru untuk batinku, tapi aku tahu cara mendo’akan mereka.

Yah, aku rasa mereka sudah menjadi orang2 yang kuat, mereka berterus terang kepada hidup.

Tak seperti aku yang memilih mengubur dalam-dalam penyesalan yang terjadi setiap detik. Aku penakut, memang !

Tapi aku yakin, Tuhan yang akan tunjukan jalan menuju masa depan,...



Bila dalam kekalahan, serasa aku ingin berbicara pada malaikat dengan mempersilahkan mereka untuk mengambil alih peran ku di dunia ini.

Aku tahu, tak semua orang membenci ku, tak semua orang juga menyenangi keberadaanku di muka bumi. Kadang aku takut brtemu kehidupan lagi, tapi aku juga takut pergi dari kehidupan.

Selama aku merasakan detak nadi ini, aku masih didunia. Walau dalam keadaan setengah, tapi aku yakin Tuhan ada pada hati ku...

Aku tak tahu bagaimana cara menjalani kehidupan yang kejam ini, kehidupan yang jauh dari kebahagiaan, maka berikanlah aku petunjuk...


Tiap terbangun sendiri tanpa alasan, aku membayanglan hidup tanpa orang-orang yang selalu ada di kornea mataku...


-_-
Previous
Next Post »

Adsense