Salam santai dariku, seorang pemalas dari desa kecil
dipinggiran kota. Hari ini, lamunan ku berakhir pada satu detik dimana aku
memutuskan untuk membuat sedikit tulisan tentang perjalan pemalas menikmati
kesantaian dan menelan kepanikanku.
Semua orang pernah merasa malas ? benarkah ? Entahlah. Tapi
jika iya berarti akulah ratunya. Aku melewati hari-hari ku dengan apa-apa yang
ingin aku kerjakan saja. Tugas sekolah, tugas rumah, bahkan sekedar menjaga
diri ku lakukan seperlunya, aku memang tak sepeduli yang lain. Malah lebih
sering membiarkan masalah datang, walaupun tetap merasa sesak saat masalah itu
mencapai puncaknya. Pemalas tetaplah pemalas, sebesar apapun tugas dan tuntutan
aku tetaplah sosok penunda pekerjaan dan penghalal mengucapkan ‘selamat tinggal’
pada detik-detik dimana aku menikmati diamku setiap hari. Pemalas selalu
bimbang tentang apa yang menyebabkan dia malas, kadang aku merasa karena
aktivitas ku monoton dan membosankan, karena tugas-tugas terlalu memusingkan,
atau karena semua nya seperti hitam putih yang tak jelas batasannya.
Taukah ? aku pun marah di ejek pemalas. Walaupun sering kali
merasa malas, menunda pekerjaan, atau bahkan membuangnya hanya untuk
menumbuhkan kesenangan sementara. Jadi pemalas tak seenak kedengarannya, hidup
santai dan easy going ? hahaha :v say no !
Aku justru merasa selalu dikejar tuntutan, semakin banyak
diam semakin besar beban itu. Tapi pemalas sering kali melihat semua tugas
kehidupan datang beruntutan tanpa mengerti susahnya diri saat ini, tapi ini
bukan salah Tuhan. Dia tak pernah salah, ini hanya salah kami saja, pemalas.
Aku sering kali bingung darimana harus memulai, lalu berpikir apa yang akan aku
lakukan ini akan bermanfaat ? lalu begitu akan mengerjakan sesuatu maka sesuatu
lain telah sampai didepan mata. Rasanya tak ada sedetikpun yang mau menunggu
kami, tapi taukah jika kami ini bukan manusia mati rasa.
Aku marah tiap kali ada orang bilang tentang pemaksaan
seseorang menjadi giat, rajin, teladan dan lain-lain. Menjadi pemalas itu
susah, kami butuh bantuan dan bukan sekedar kata-kata. Baiklah mungkin
kata-lata bijak mampu membuat kami semangat dan adrenaline kami kembali terpacu
untuk lebih cepat bergerak. Tapi untuk mengejar kami butuh sesuatu yang lebih,
lebih dari sekedar teman yang bisa diajak berdiskusi tiap saat, teman yang tak
pernah berat hati meninggalkan kebutuhannya untuk membantu kami berdiri, dan
teman yang mau mengingatkan kesalahan kami. Tapi kami sadar, hanya Tuhan yang
mampu melakukan itu.
Bukannya kami tak mau berubah, tapi sayangnya dinding
pembatas antara giat dan malas itu masih kelihatan ngeri, aku sering berusaha
melewatinya tapi sering jatuh tepat diduri-duri nya. Rasanya sakit, saat mau
berubah tapi malah dijatuhkan. Mungkin ini ujian buat ku, Tuhan memang Maha
Adil. Aku selalu bermimpi bisa melewati fase ini dan melanjutkan hidup dengan
cara yang lazim, lazimnya orang yang dicintai Tuhan, orang yang bermanfaat
untuk kehidupan, alam semesta pun seluruh penghuninya, orang yang membahagiakan
orang tua ku tentu saja. Tapi selama ini hanya rasa lelah yang aku tunjukan,
tak ada sikap baik yang aku berikan.
Sepertinya mereka terlalu
meluapkan seluruh energi untuk kehidupan, mungkin mereka lupa bahwa kami pun
punya keinginan untuk menjadi seperti mereka. Tidak mudah menyerah dan selalu
berpikir positif, segala hal pasti terasa indah kalau kami mampu bersyukur
secara total.
Bukan karena tak mau, tapi karena ini cukup sulit. Aku selalu
berharap Tuhan memanjangkan hari, tapi berarti kehidupan akan berakhir. Sementara
ditengah keluh kesahku, aku memandangi mereka yang kuat dan rajin sekali dalam
hidup mereka, serasa tak punya masalah apa-apa. Melakukan sesuatu selalu tepat
waktu, kenapa aku tidak bisa ? mungkin karena aku terlalu suka diam. Apa mereka
tidak lelah ? sementara aku berlari sebentar saja sudah lelah. Apakah ada dibenak
mereka bahwa pemalas membutuhkan orang-orang seperti mereka untuk diajak lari
bersama.
Melihat mereka seperti melihat orang-orang hebat, sementara
menengok kedalam diri seakan ingin memaki-maki. Kami tahu ini kesalahan, aku
pun tahu ini kelalailan, tapi biarkanlah kami tumbuh kembang, menikmati
perjuangan lolos dari perangkap kemalasan. Sampai suatu saat dalam waktu dekat
ini kami selamat, dan kami mampu lagi berjalan lazim dalam kehidupan.
“Pemalas bukannya tak bisa rajin, tapi dia butuh seseorang
menyeretnya keluar dari lembah ‘serba menunda’ sampai dia sadar. Tapi siapa si
Rajin yang mau lakukan itu ? :) ”
Sign up here with your email

EmoticonEmoticon