<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- hanimaulisya_main_Blog1_1x1_as --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-8462904462266240" data-ad-slot="1837331217" data-ad-format="auto"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Tulisan Seorang Pemalas



Salam santai dariku, seorang pemalas dari desa kecil dipinggiran kota. Hari ini, lamunan ku berakhir pada satu detik dimana aku memutuskan untuk membuat sedikit tulisan tentang perjalan pemalas menikmati kesantaian dan menelan kepanikanku.

Semua orang pernah merasa malas ? benarkah ? Entahlah. Tapi jika iya berarti akulah ratunya. Aku melewati hari-hari ku dengan apa-apa yang ingin aku kerjakan saja. Tugas sekolah, tugas rumah, bahkan sekedar menjaga diri ku lakukan seperlunya, aku memang tak sepeduli yang lain. Malah lebih sering membiarkan masalah datang, walaupun tetap merasa sesak saat masalah itu mencapai puncaknya. Pemalas tetaplah pemalas, sebesar apapun tugas dan tuntutan aku tetaplah sosok penunda pekerjaan dan penghalal mengucapkan ‘selamat tinggal’ pada detik-detik dimana aku menikmati diamku setiap hari. Pemalas selalu bimbang tentang apa yang menyebabkan dia malas, kadang aku merasa karena aktivitas ku monoton dan membosankan, karena tugas-tugas terlalu memusingkan, atau karena semua nya seperti hitam putih yang tak jelas batasannya.

Taukah ? aku pun marah di ejek pemalas. Walaupun sering kali merasa malas, menunda pekerjaan, atau bahkan membuangnya hanya untuk menumbuhkan kesenangan sementara. Jadi pemalas tak seenak kedengarannya, hidup santai dan easy going ? hahaha :v say no !

Aku justru merasa selalu dikejar tuntutan, semakin banyak diam semakin besar beban itu. Tapi pemalas sering kali melihat semua tugas kehidupan datang beruntutan tanpa mengerti susahnya diri saat ini, tapi ini bukan salah Tuhan. Dia tak pernah salah, ini hanya salah kami saja, pemalas. Aku sering kali bingung darimana harus memulai, lalu berpikir apa yang akan aku lakukan ini akan bermanfaat ? lalu begitu akan mengerjakan sesuatu maka sesuatu lain telah sampai didepan mata. Rasanya tak ada sedetikpun yang mau menunggu kami, tapi taukah jika kami ini bukan manusia mati rasa.

Aku marah tiap kali ada orang bilang tentang pemaksaan seseorang menjadi giat, rajin, teladan dan lain-lain. Menjadi pemalas itu susah, kami butuh bantuan dan bukan sekedar kata-kata. Baiklah mungkin kata-lata bijak mampu membuat kami semangat dan adrenaline kami kembali terpacu untuk lebih cepat bergerak. Tapi untuk mengejar kami butuh sesuatu yang lebih, lebih dari sekedar teman yang bisa diajak berdiskusi tiap saat, teman yang tak pernah berat hati meninggalkan kebutuhannya untuk membantu kami berdiri, dan teman yang mau mengingatkan kesalahan kami. Tapi kami sadar, hanya Tuhan yang mampu melakukan itu.

Bukannya kami tak mau berubah, tapi sayangnya dinding pembatas antara giat dan malas itu masih kelihatan ngeri, aku sering berusaha melewatinya tapi sering jatuh tepat diduri-duri nya. Rasanya sakit, saat mau berubah tapi malah dijatuhkan. Mungkin ini ujian buat ku, Tuhan memang Maha Adil. Aku selalu bermimpi bisa melewati fase ini dan melanjutkan hidup dengan cara yang lazim, lazimnya orang yang dicintai Tuhan, orang yang bermanfaat untuk kehidupan, alam semesta pun seluruh penghuninya, orang yang membahagiakan orang tua ku tentu saja. Tapi selama ini hanya rasa lelah yang aku tunjukan, tak ada sikap baik yang aku berikan.

 Sepertinya mereka terlalu meluapkan seluruh energi untuk kehidupan, mungkin mereka lupa bahwa kami pun punya keinginan untuk menjadi seperti mereka. Tidak mudah menyerah dan selalu berpikir positif, segala hal pasti terasa indah kalau kami mampu bersyukur secara total.
Bukan karena tak mau, tapi karena ini cukup sulit. Aku selalu berharap Tuhan memanjangkan hari, tapi berarti kehidupan akan berakhir. Sementara ditengah keluh kesahku, aku memandangi mereka yang kuat dan rajin sekali dalam hidup mereka, serasa tak punya masalah apa-apa. Melakukan sesuatu selalu tepat waktu, kenapa aku tidak bisa ? mungkin karena aku terlalu suka diam. Apa mereka tidak lelah ? sementara aku berlari sebentar saja sudah lelah. Apakah ada dibenak mereka bahwa pemalas membutuhkan orang-orang seperti mereka untuk diajak lari bersama.

Melihat mereka seperti melihat orang-orang hebat, sementara menengok kedalam diri seakan ingin memaki-maki. Kami tahu ini kesalahan, aku pun tahu ini kelalailan, tapi biarkanlah kami tumbuh kembang, menikmati perjuangan lolos dari perangkap kemalasan. Sampai suatu saat dalam waktu dekat ini kami selamat, dan kami mampu lagi berjalan lazim dalam kehidupan.
“Pemalas bukannya tak bisa rajin, tapi dia butuh seseorang menyeretnya keluar dari lembah ‘serba menunda’ sampai dia sadar. Tapi siapa si Rajin yang mau lakukan itu ? :) ”
Previous
Next Post »

Adsense