Aku
duduk sendiri disini, biarpun mereka ramai tapi tetap saja aku sendiri. Sendiri
dengan perasaan yang perlahan membunuh rasa-rasa yang lain. Bagaimana tidak ?
sakit yang sederhana ini mampu membuat semua makanan seperti kayu, keras
dikunyah legit di rasa dan tertolak. Masih terekam jelas jejak-jejak yang
seseorang torehkan pada selembar kisah sad roman dalam perjalanan masa muda ku.
Aku seorang secret admirer, yang entah kenapa memilih untuk menjadi penggemar
rahasia saja, lebih tepatnya Pecinta rahasia. Malang nian malam-malam yang
terlewati hanya dengan sekedar merindunya sesaat, membebaskan rasa dengan
melody sendu yang selalu terputar selama empat koma sembilan detik,
menyampaikan salam rindu setiap malam dan berharap angin akan meniup rasa ini
pada seseorang disana. Semua itu terjadi berulang-ulang, sedih senang suram
terang tawa dan tangisan semuanya telah lengkap terbungkus rasa yang mulai
kekeringan karena hujan tak kunjung turun menyejukannya. Aku sering merayu hatiku
sendiri, “Sabar sayang, kamu harus tabah...” gumamku sesekali tersenyum melawan
manis pahitnya perasaan seorang penggemar rahasia yang entah sampai kapan hanya
dapat mencintai seseorang dari sisi lain diri ini.
Sejauh
ini kisah cintaku selalu manis, semanis rasa yang selalu terjawab dengan indah.
Rasa yang selalu terlengkapi, tetapi berbeda untuk kali ini. Aku menahan
semuanya, entah kenapa. Mungkin aku sudah terlalu phobia untuk mengakui bahwa
aku ‘Jatuh Cinta’. Akibatnya perasaan yang dalam ini hanya aku akui sebagai
suatu kekaguman sekedarnya. Padahal jauh disini, ingin sekali memintanya
menunggu, tapi siapa aku ?...
Mencintainya
seperti memetik mawar, indah memang tapi kalau tidak hati-hati, jari ku bisa
berdarah karena tergores duri-duri harapan palsu yang menjaganya dari sentuhan
perasaanku. Haha ! mungkin selamanya aku hanya sebagai seorang yang pernah
mencintainya dari sisi gelap ku, sisi tersembunyi dari seorang aku dan
kepribadian yang akan dia benci.
Kadang
aku mengira rasa ini sudah sampai padanya, kadang pula aku menemukan bahwa dia
masih tetap tak tahu apa-apa. Sedap rasanya menatap dia tertawa dan menyendiri,
atau jika dia sedang menghibur diri, atau juga saat dia termakan rasa sedih
yang entah karena apa. Rasanya adalah rasaku, tapi rasaku bukan sesuatupun
untuknya. Dia sedih aku pun turut berduka, namun kebahagiaannya adalah sekedar
tawa bagiku, tapi tangis untuk perasaanku. Maksudku kebahagiaannya saat dia
menemukan orang yang dia yakini mampu menjaga hatinya, tapi bukan aku, lebih
tepatnya orang lain yang dekat dengan perempuan ideal dan mungkin pula mampu
membawa keindahan untuknya.
Tahukah ? aku pun ingin mengerti
bahagia yang yang engkau alami saat engkau menemukan jawaban atas perasaanmu
terhadapnya...
Hati
ku seakan mengucap syukur atas senyum yang aku lihat, semoga itu cerminan atas
perasaannya yang sesungguhnya, yah ! asal dia bahagia aku pun turut serta. Tapi
ternyata jauh dihati yang paling dalam aku masih memohon agar perasaanku kebal
dan tak jatuh. “Sabarlah hati, dunia mu bukan hanya dia. Tak bertemu sekarang,
hati mu dan hatinya masih bisa berjumpa dimasa depan” Kadang demikianlah aku
menegur hatiku.
Sampai
suatu saat tiba, dimana aku mulai lelah. Memang benar, seseorang akan jadi
budak sesuatu yang dicintainya. Begitupun aku yang rela lelah menjadi budak
untuk raja yang tak pernah sadar bahwa dia memiliki budak setulus perasaan ini.
Andaikan dia tahu ? menangiskah dia saat melihat ku menuliskan harapan-harapan
untuk perasaan ku ini yang terlalu menganggap dia begitu sesuatu. Haha ... Dia
tak boleh tahu, nanti pikirannya terganggu, nanti aku dan dia tak bisa jadi
teman, dan nanti aku tak bisa mengaguminya dari sisi gelap ku lagi. Cukuplah
hati ini yang tertahan...
Taukah
dia ? bahwa cerita antara aku dan dia terlalu manis. Entah siapa yang memberi
gula pada secangkir kopi pahit yang sangat pahit hingga pahitnya serasa semanis
madu. Ataukah inilah madu yang lama didiamkan hingga perusak terlanjur
menghancurkan manisnya. Semoga pahit nya perasaanku padanya menjadi bius yang
kuat, agar aku tak lagi mudah jatuh cinta pada orang lain. Kecuali, kecuali
pada orang yang akan menggandeng tanganku dihadapan ayah dan ibu ku. Sungguh,
rasa ini terlalu manis untuk aku sela lagi dengan perasaan ku yang lain. Jika
aku mampu untuk jatuh cinta lagi, maka aku ingin setelah ini adalah jatuh cinta
ku yang terakhir. Dengan kata lain ? bolehkah aku menjadi pengagumu ? aku tak
ingin jatuh cinta lagi, memendam rasa lagi, sakit lagi, dan berpindah hati
lagi. Aku terlalu nyaman dengan perlakuan mu terhadap ku. Bolehkah rasa cinta
ini menjadi teman hidup ku selama aku belum bertemu dengan takdirku yang
terindah.
Untukmu...
Jalanilah hidup mu seperti biasa,
tak usah hiraukan pengecut ini...
:’(
Memang bukan perkara sulit
mengungkap isi hati langsung
dihadapanmu, langsung lewat mulutku, langsung pula lewat sebuah tulisan. Tapi
perasaan ini terlalu mahal...
Mulai
saat ini aku ingin belajar tidak gugup bila harus berhadapan dengannya. Apalagi
kalau dia bisa bahagia dengan orang lain, kalaupun dia harus jatuh lagi nanti. Aku
tak ingin mengetuk bila tak ada panggilan. Biarlah dia berteman air mata dan do’a,
biar dia melawan sepinya sendiri, sampai mungkin dia akan menemukan orang lain
lagi. Karena aku sudah tak sanggup lagi melawan hati, biarkan perasaan ini
tidur pulas dan meraih mimpi-mimpinya yang indah.
Hey...
Jika suatu hari nanti, kamu
tersadar dan tercengang dengan berita ini
Maka tak usah bersedih karena aku
mencintaimu
Berbahagialah dengan hidupmu,
percayalah aku tak akan menganggu kalau tak kamu minta
Aku tetap pada perasaan ini,
entah sampai kapan...
Atau entah bagaimana cara ku
mengosongkan hati ini...
Terimakasih cinta, kamu adalah
asmara terindah...
Untukku...
Tidurlah wahai hati...
Nikmati rindu mu, masih banyak
yang harus kau lakukan
Jangan lagi bersedih, semuanya
akan baik-baik saja
Dia akan menemukan kebahagiannya
dan begitu pula dengan mu
Engkau akan menemukan rasa
bahagiamu, secepatnya !..
:’)
Beristirahatlah dari jatuh cinta
jika itu hanya membuat mu merasa dunia mu hilang
Bangunlah jika Sang Pencipta
benar-benar menginginkah hati untuk terbangun dan mulai mencintai lagi
Bangunlah kelak dengan segar...
Semoga engkau akan meraih apa
yang ingin engkau raih
Membahagiakan kedua malaikat mu,
dan malaikat kecilmu...
Tidurlah Hati... terlelaplah
Lupakan sakitnya, sambut mimpi
indahnya
Tidurlah Rasa...
Sign up here with your email

EmoticonEmoticon