<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script> <!-- hanimaulisya_main_Blog1_1x1_as --> <ins class="adsbygoogle" style="display:block" data-ad-client="ca-pub-8462904462266240" data-ad-slot="1837331217" data-ad-format="auto"></ins> <script> (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); </script>

Tidurlah Rasa...



                Aku duduk sendiri disini, biarpun mereka ramai tapi tetap saja aku sendiri. Sendiri dengan perasaan yang perlahan membunuh rasa-rasa yang lain. Bagaimana tidak ? sakit yang sederhana ini mampu membuat semua makanan seperti kayu, keras dikunyah legit di rasa dan tertolak. Masih terekam jelas jejak-jejak yang seseorang torehkan pada selembar kisah sad roman dalam perjalanan masa muda ku. Aku seorang secret admirer, yang entah kenapa memilih untuk menjadi penggemar rahasia saja, lebih tepatnya Pecinta rahasia. Malang nian malam-malam yang terlewati hanya dengan sekedar merindunya sesaat, membebaskan rasa dengan melody sendu yang selalu terputar selama empat koma sembilan detik, menyampaikan salam rindu setiap malam dan berharap angin akan meniup rasa ini pada seseorang disana. Semua itu terjadi berulang-ulang, sedih senang suram terang tawa dan tangisan semuanya telah lengkap terbungkus rasa yang mulai kekeringan karena hujan tak kunjung turun menyejukannya. Aku sering merayu hatiku sendiri, “Sabar sayang, kamu harus tabah...” gumamku sesekali tersenyum melawan manis pahitnya perasaan seorang penggemar rahasia yang entah sampai kapan hanya dapat mencintai seseorang dari sisi lain diri ini.



                Sejauh ini kisah cintaku selalu manis, semanis rasa yang selalu terjawab dengan indah. Rasa yang selalu terlengkapi, tetapi berbeda untuk kali ini. Aku menahan semuanya, entah kenapa. Mungkin aku sudah terlalu phobia untuk mengakui bahwa aku ‘Jatuh Cinta’. Akibatnya perasaan yang dalam ini hanya aku akui sebagai suatu kekaguman sekedarnya. Padahal jauh disini, ingin sekali memintanya menunggu, tapi siapa aku ?...
                Mencintainya seperti memetik mawar, indah memang tapi kalau tidak hati-hati, jari ku bisa berdarah karena tergores duri-duri harapan palsu yang menjaganya dari sentuhan perasaanku. Haha ! mungkin selamanya aku hanya sebagai seorang yang pernah mencintainya dari sisi gelap ku, sisi tersembunyi dari seorang aku dan kepribadian yang akan dia benci.
                Kadang aku mengira rasa ini sudah sampai padanya, kadang pula aku menemukan bahwa dia masih tetap tak tahu apa-apa. Sedap rasanya menatap dia tertawa dan menyendiri, atau jika dia sedang menghibur diri, atau juga saat dia termakan rasa sedih yang entah karena apa. Rasanya adalah rasaku, tapi rasaku bukan sesuatupun untuknya. Dia sedih aku pun turut berduka, namun kebahagiaannya adalah sekedar tawa bagiku, tapi tangis untuk perasaanku. Maksudku kebahagiaannya saat dia menemukan orang yang dia yakini mampu menjaga hatinya, tapi bukan aku, lebih tepatnya orang lain yang dekat dengan perempuan ideal dan mungkin pula mampu membawa keindahan untuknya.
Tahukah ? aku pun ingin mengerti bahagia yang yang engkau alami saat engkau menemukan jawaban atas perasaanmu terhadapnya...
                Hati ku seakan mengucap syukur atas senyum yang aku lihat, semoga itu cerminan atas perasaannya yang sesungguhnya, yah ! asal dia bahagia aku pun turut serta. Tapi ternyata jauh dihati yang paling dalam aku masih memohon agar perasaanku kebal dan tak jatuh. “Sabarlah hati, dunia mu bukan hanya dia. Tak bertemu sekarang, hati mu dan hatinya masih bisa berjumpa dimasa depan” Kadang demikianlah aku menegur hatiku.
                Sampai suatu saat tiba, dimana aku mulai lelah. Memang benar, seseorang akan jadi budak sesuatu yang dicintainya. Begitupun aku yang rela lelah menjadi budak untuk raja yang tak pernah sadar bahwa dia memiliki budak setulus perasaan ini. Andaikan dia tahu ? menangiskah dia saat melihat ku menuliskan harapan-harapan untuk perasaan ku ini yang terlalu menganggap dia begitu sesuatu. Haha ... Dia tak boleh tahu, nanti pikirannya terganggu, nanti aku dan dia tak bisa jadi teman, dan nanti aku tak bisa mengaguminya dari sisi gelap ku lagi. Cukuplah hati ini yang tertahan...
                Taukah dia ? bahwa cerita antara aku dan dia terlalu manis. Entah siapa yang memberi gula pada secangkir kopi pahit yang sangat pahit hingga pahitnya serasa semanis madu. Ataukah inilah madu yang lama didiamkan hingga perusak terlanjur menghancurkan manisnya. Semoga pahit nya perasaanku padanya menjadi bius yang kuat, agar aku tak lagi mudah jatuh cinta pada orang lain. Kecuali, kecuali pada orang yang akan menggandeng tanganku dihadapan ayah dan ibu ku. Sungguh, rasa ini terlalu manis untuk aku sela lagi dengan perasaan ku yang lain. Jika aku mampu untuk jatuh cinta lagi, maka aku ingin setelah ini adalah jatuh cinta ku yang terakhir. Dengan kata lain ? bolehkah aku menjadi pengagumu ? aku tak ingin jatuh cinta lagi, memendam rasa lagi, sakit lagi, dan berpindah hati lagi. Aku terlalu nyaman dengan perlakuan mu terhadap ku. Bolehkah rasa cinta ini menjadi teman hidup ku selama aku belum bertemu dengan takdirku yang terindah.
Untukmu...
Jalanilah hidup mu seperti biasa, tak usah hiraukan pengecut ini...
:’(
Memang bukan perkara sulit mengungkap isi  hati langsung dihadapanmu, langsung lewat mulutku, langsung pula lewat sebuah tulisan. Tapi perasaan ini terlalu mahal...
                Mulai saat ini aku ingin belajar tidak gugup bila harus berhadapan dengannya. Apalagi kalau dia bisa bahagia dengan orang lain, kalaupun dia harus jatuh lagi nanti. Aku tak ingin mengetuk bila tak ada panggilan. Biarlah dia berteman air mata dan do’a, biar dia melawan sepinya sendiri, sampai mungkin dia akan menemukan orang lain lagi. Karena aku sudah tak sanggup lagi melawan hati, biarkan perasaan ini tidur pulas dan meraih mimpi-mimpinya yang indah.
                Hey...
Jika suatu hari nanti, kamu tersadar dan tercengang dengan berita ini
Maka tak usah bersedih karena aku mencintaimu
Berbahagialah dengan hidupmu, percayalah aku tak akan menganggu kalau tak kamu minta
Aku tetap pada perasaan ini, entah sampai kapan...
Atau entah bagaimana cara ku mengosongkan hati ini...
Terimakasih cinta, kamu adalah asmara terindah...
Untukku...
Tidurlah wahai hati...
Nikmati rindu mu, masih banyak yang harus kau lakukan
Jangan lagi bersedih, semuanya akan baik-baik saja
Dia akan menemukan kebahagiannya dan begitu pula dengan mu
Engkau akan menemukan rasa bahagiamu, secepatnya !..
:’)
Beristirahatlah dari jatuh cinta jika itu hanya membuat mu merasa dunia mu hilang
Bangunlah jika Sang Pencipta benar-benar menginginkah hati untuk terbangun dan mulai mencintai lagi
Bangunlah kelak dengan segar...
Semoga engkau akan meraih apa yang ingin engkau raih
Membahagiakan kedua malaikat mu, dan malaikat kecilmu...
Tidurlah Hati... terlelaplah
Lupakan sakitnya, sambut mimpi indahnya

Tidurlah Rasa...

Previous
Next Post »

Adsense