Mimpi Yang berbeda
Semalam sebelum tidur, aku lupa
apa yang aku lakukan. Semestinya aku kelelahan karena seharian pekerjaanku
tidak karuan. Tak hanya itu yang terlewatkan dari memori ku, aku pun lupa kapan
terakhir kali aku berkedip sebelum akhirnya melesat ke alam mimpi yang begitu
berbeda saat ku lihat untuk tadi malam. Kau tahu apa bedanya ?
Biasanya aku bermimpi aku sedang
melakukan sesuatu, dan kamu berada didekatku, tanpa kata tanpa suara tanpa
bertindak apa-apa. Diam saja disana, tapi selalu berada didekatku. Seperti
menungguku selesai melakukan sesuatu itu. Aku berpindah kamupun mengikutiku,
tanpa kata, tanpa pesan apa-apa. Sampai untuk yang terakhir sebelum ini, aku
bermimpi kita agak berjauhan. Dan apa kau tahu tadi malam ? tebak apa yang telah
aku mimpikan. Entahlah, ini bisikan terkutuk itu atau de javu ku saja, atau
bahkan sekedar bunga tidur tanpa makna, tapi aku masih ingat benar kejadian apa
yang semalam aku jalani di alam mimpi itu.
Tadi malam kita berada disatu
tempat. Tenang saja. Kita berempat dan saling mengenal, maaf semua nama aku
samarkan. Aku tetap aku, teman dekatku Marsha, Sahabat dekat perempuanmu Akila,
dan kamu kusebut Noname. Aku melihat mu menyandarkan kepalamu seperti orang
putus asa, kamu biarkan dagu mu berhimpit dengan meja. Aku lihat lagi apa yang
tengah ada dibayangan matamu, kesedihan ? mungkin saja. Sial sekali waktu itu,
aku pun masih bersedih entah karena apa. Aku sandarkan kepala ini di pangkuan
sahabatku, Marsha. Kamu pun melihat ku begitu, dan saat itu juga kamu tahu
semua hal yang tak perlu kamu tahu. Betapa bodohnya aku saat aku tahu ternyata
kamu pura-pura tak tahu *Gagal diksi, okebalik. Kamu membiarkan apa yang kamu
lihat berlalu, dan terus meratap, entah kenapa.
Selanjutnya, aku mulai
menggenggam tangan Marsha, aku mulai memeluknya atau sebut saja meletakkan
tangannya dileherku, merasakan tulusnya tangan itu dan merasa tenang
dipangkuannya.
“Lihat aku dan Marsha. Dekat
sekali bukan, seperti pasangan. Bodoh sekali ! haha” Ucapku dimimpi itu pembaca
tak usah melayangkan pikirannya kesana, aku dan Marsha sering melebih-lebihkan
sesuatu, tapi tak sungguh-sungguh seperti film yes or no. Ini sekedar gurauan
pemecah suasana kalau kami larut dalam kedekatan, yah ! kami seperti sepasang
sahabat. Entahlah...
Kamu berubah posisi sekarang,
sekarang kamu seperti mau tidur, maklum mimpi ini terlalu berantakan sampai tak
teratata rapi gerak demi geraknya. “Aku juga ingin seperti itu” Kamu
mengatakannya sedang wajahmu sekarang berhias senyum. Sama sekali tak berharap
istimewa saat itu, tak ada sangkaan kuat tentang apa yang nanti memungkinkan
untuk terjadi. Kamu meraih tanganku, ini gila ! Yah ! mungkin otakku saat itu
dikuasai terkutuk, atau ini benar-benar alam bawah sadarku yang sudah tak
serapi dulu sampai-sampai bunga tidur yang muncul jadi setidak jelas ini.
Setelah kamu mengambil tanganku,
kamu mengusapkan tangan ini kewajahmu.
Apa ini ? begitu aku terpaku dalam tanda tanya. Anehnya aku
membiarkan tangan ini mengusap wajahmu beigtu saja dan sekarang kamu hampir
memeluknya, seperti yang aku lakukan terhadap tangan Marsha. Disitu, ada
dorongan dalam hati yang tiba-tiba, seperti penolakan karena teringat kalau
harusnya belum sampai disini. Aku tarik tangan ini dari dekapanmu, sambil
tertawa aku katakan. “Hahaha ! Nanti Diana bisa menendang ku kalau tahu ini !”.
Ahh...
Aku mulai jauh, ini keterlaluan.
Oh ya ! soal Diana. Disitu Diana adalah nama samaran untuk perempuan yang
setahuku masih menjadi ‘your girlfriend’ untuk saat ini. Selebihnya aku tak mau
tahu. Melihat sikap ku yang begitu, kamu pun ikut tertawa. “Hahahaha !” sudah
tertawa saja, tak ada yang lain. Ini gila kan ? begitulah menurutku, salah satu
alasan yang membuat aku mengingat mimpi ini.
Saat kamu tertawa aku tak sempat
mengambil maknanya, aku ikut saja tertawa. Seperti di dunia nyata aku berusaha
menutupi kecurigaanku. Sudahlah !...
Setelah itu, aku berangkat menuju
suatu tempat, namun keadaanku begitu mengenaskan. Semua teman-teman ku dalam keadaan
baik dan sangat layak masuk kedalam. Tapi keadaanku ? tidak !. aku sangat malu
mendekati tempat itu, tapi apa boleh buat. Sengeri apapun ini seperti sebuah
kewajiban, aku paksakan untuk tetap pergi kesana sendirian saja. Berusaha menutup
segala keburukan yang bisa tertutupi disetiap langkah, bagian ini aku tak mau
membaginya karena terlalu something untuk dibagikan sekarang, biarkan aku
mencari maknanya sendiri, dan selesailah...
Semoga itu hanya bunga mimpi,
atau semoga hanya de javu...
Eh jangan !, semoga itu Cuma seperti
bayangan saja, atau seperti angin yang lewat begitu saja...
Atau... atau apa ? ayolah !!!...
berhenti pada suatu moment dimana aku berusaha untuk berekspresi seperti tidak
ada apa-apa. Aahhh !!!! AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
!
Sign up here with your email

EmoticonEmoticon